Bunyi kecipak air buatku tersadar. Kuangkat kepalaku. Imaji terurai nyata. Angsa putih itu berdiri di depanku. Di atas air berkilau cahaya senja. Aku bergeming. Tak menyesal aku keluar asrama. Surgakah? kamera digital di genggaman kuangkat. Harus kuabadikan momen ini. Kena dia! Sang angsa tertegun sejenak, lalu kembali menyikat bulu putihnya.
Derum mobil di balik punggung merusak suasana. Aku terkesiap. Baru kuingat. Ini bukan surga, bukan pula tempat wisata. Ini Tokyo. Di tengah Tokyo. Bukan danau, hanya sungai buatan dengan angsa piaraan. Aku tertegun di atas trotoar, bersama dengan puluhan warga menikmati musim gugur. Gagak hitam bertengger pada tiang lampu jalan. Menatap anak-anak bersepatu roda mengitari pasangan-pasangan muda berjoging sore.
Angsa itu menjauh, aku tak peduli. Kuyakinkan diri lagi. Ini Tokyo, kota besar, sangat besar, sangat sibuk. Bagaimana bisa?.. benakku terkagum tanpa henti. “Fin, pulang yuk!”.. kupalingkan wajah malas ke arah temanku. Enggan kulangkahkan kaki.
Finomena ini.. Jakarta-ku.. Indonesia-ku.. kapankah…
(sepenggal kisah Januari 2003)




Wednesday, 19. November 2008
Enak kali yah, kl pas jam istirahat kantor bisa duduk2 di taman kota ngasih makan angsa
Wednesday, 19. November 2008
Kalo di negara maju, semakin maju sebuah kota berarti semakin banyak RTH sebagai firdaus diantara hutan beton yang mengepungnya. Semakin banyak pula jalur-jalur pedestrian yang memanjakan pejalan kaki dan para biker. Walaupun jumlah kendaraan banyak tetap saja lalu lintasnya teratur meskipun dalam kemacetan. Belum lagi sarana transportasi publik yang nyaman, aman, dan handal. Sementara di Indonesia????
Wednesday, 19. November 2008
nice blog mas!
Wednesday, 19. November 2008
kupikir dikau hanya pandai mengolah data tapi sekarang ternyata dikau juga piawai mengolah kata..luarbiasa.
Thursday, 20. November 2008
setiap kota punya wajah sendiri, nyawa sendiri …
Thursday, 20. November 2008
Hmm…. berbakat untuk jadi purel juga neeh kayaknya..:)
Thursday, 20. November 2008
proses yg bagus, kadang kita sentimentil, kadang kita harus keras yahh itulah kehidupan, kita sdh bisa membayangkan umur kemerdekaan bangsa ini, berapa peran membangun diri dan lingkungannya itu sulit kita pikirkan, tapi yg dekat dengan blog ini salut dan terimakasih belajar dan pembelajaran hidup ini, wass
Saturday, 22. November 2008
makin sempurna Mas … agaknya harus ada penjelasan khusus tentang *finonema* (aku seneng banget dengan kosa kata baru itu)
Sunday, 23. November 2008
yup…
sebuah kota besar apalagi metropolitan kudu punya daerah semacam taman untuk menenangkan pikiran karyawan2/pekerja..khan dari segi kesehatan melihat yang hijau2 pikiran kita kan jernih kembali..jangan hanya lihat tembok n kemacetan….
Jakarta khan udah ada Monas dan taman menteng n bentar lagi new taman bmw n barito
Sunday, 23. November 2008
angsa2 kota itu sudah lama berdiri dan dilestarikan. sedangkan disini ?? bebek aja belum ada ya fin, apalagi angsa
Jakarta oh jakarta kapan bisa liat ciptaan alam seindah angsa2 kota di negeri matahari itu, yang ada hanyalah polusi, kemacetan. Hopefully taman2 yg disebutin anno dilestarikan klo perlu diperindah.
Monday, 24. November 2008
welly: stuju oom wel
reksa: yah.. begitulah xa
nengdj: makasih din
davik_oktavian: makasih banyak pak davik
mbilung: betul.. tapi tak ada salahnya melihat ke yang ‘lebih baik’ kan?
nining: heh? kok purel ning?
prijo: terimakasih pak pri
moumtaza: makasih pak, udah saya jelaskan di page blogging
anno: semoga semua taman itu bisa efekif ya.. tak sabar menunggu
molin: yup, stuju