RSS
 

Desir senggigi

18 Nov

Senggigi mendesir sore itu. Perahu nan jauh mulai melaju. Di sisi pasir putih, nelayan bercengkerama. Seorang turis asing mendekatiku. “Lombok lebih menarik dari Bali. Bali terlalu ramai”, ujarnya. Aku hanya tersenyum. Saat itu aku belum pernah ke Bali. Tak lama kemudian dia pergi menghampiri kedua anaknya yang sedang riang mengejar ombak. Aku mengamati mereka sebentar dan kembali menerawang jauh. Betapa lautan sangat misterius. Begitu luas, begitu perkasa, namun menyimpan rahasia yang dalam di setiap jengkalnya.

Aku memeluk lututku. Kubenamkan jemari kakiku dalam selimut pasir yang sejuk. Senja kian menguning. Laut mulai menelan matahari. Panorama luar biasa untuk seseorang yang sejak lahir tinggal jauh dari pantai. Entah kenapa tiba-tiba khayalan tsunami muncul di benakku. Aku bergidik sendiri. Betapa kuasa-Nya tidak terkira. Kubayangkan sebuah jari besar tercelup, dan serta merta daratan sekitarnya hilang ditelan ombak. Aku bangkit. Ah, sudahlah. Liburan masih panjang. Buat apa berkhayal macam-macam. Kulirik riak ombak di belakangku sekali lagi. Aku tersenyum sendiri. Bodoh sekali, bahkan Engkau tidak perlu mencelupkan ‘jari’-Mu hanya sekedar membuat tsunami. Karena Engkau Maha Segalanya ya Allah.

(sepenggal kisah Agustus 2008)

 

Cuci motor

06 Jun

Motorku, sedihku melihatmu.

Kerjamu tak seberapa. Hanya duapuluh kilometer sehari. Jam terbang yang sangat minim dibandingkan saudara-saudaramu di jalanan Bekasi. Namun, kau tetap sengsara. Duabelas jam lebih menantiku dengan setia. Nyaris setiap hari. Hujan panas menderamu di penitipan yang selalu penuh. Hanya sedikit yang selamat dari terpaan ganasnya cuaca. Kau lusuh dan dekil dibuatnya. Tapi kau tetap setia.

Hari ini kubawa kau kemari sahabatku. Mandilah kau sepuasnya. Nikmati sejuknya tirta dingin bersalju. Biarkan mereka memijatmu, mengelusmu, dan memanjakannya. Esok hari-hari itu kan terulang lagi. Kudoakan cuaca ini kian membaik. Kuharap kau tetap setiap setia mengantar dan menungguku.

 

Malangnya si Drum

05 Jun

Buk, doenk, buk, doenk.. Ribut sekali.

Si kecil sibuk dengan mainan barunya. Well, sebenarnya tak baru benar. Lama tersimpan di lemari mertua. Menunggu hingga saatnya tiba. Dan sekaranglah saatnya, pikirku. Lalu mulailah keributan itu. Si kecil memang suka sekali musik. Kalaupun memang bisa disebut musik. Dimulai dari bak buk pertama, diselingi dengan penyangga simbal yang patah, dan diakhir dengan beberapa penyangga drum yang patah.

Haha, ternyata tetap masih belum saatnya. Tapi drum sudah jadi ‘bubur’. Akhirnya ia kembali ke lemari lagi, menunggu saat yang lebih tepat :)

 

Palestina cintaku

04 Jun

Palestine, I’m here for you”.
Guratan penuh kasih itu membuatku terdiam. Membisu pada spanduk yang terikat di jembatan penyeberangan medan merdeka. Membisu di antara riuh rendah para pembawa bendera merah-hitam-putih-hijau. Membisu, namun lantang. Lantang menghunjam hatiku yang langsung menjerit. Gelisah dudukku terhenti. Satu jam sudah aku disini. Di taxi sejuk yang tak bergeming dalam kepungan deru sesamanya.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”  Terdengar seruan tangguh melawan deru sombong kendaraan yang berjalan pelan dalam lautan bendera. Anak-anak suci berjilbab putih mengangkat bendera kecilnya. Mereka membuat bendera itu semalaman. Pemuda-pemuda berjanggut tipis tak henti bertakbir. Mereka tak tidur semalaman. Pemudi-pemudi anggun tak hentinya berdo’a. Mereka pun menangis semalaman.

Sedang aku? Sedang apa aku semalam? Sedang apa aku sekarang?
Mengejar rapat tak bermakna. Mencari kebahagiaan dunia fana. Memikul beban gelar sarjana. Mengais rezeki tak seberapa. Sementara disana..

Saudara-saudaraku merintih perih di seberang benua. Saudari-saudariku meregang nyawa dalam syahid. Adik-adik kecilku menangis pilu dalam pelukan sang bunda yang bersimbah darah. Sahabat-sahabatku yang pemberani mengantar peluru bersambut rudal. Ya Rabb, kekasih-kekasih-Mu ada di sana. Lalu siapa aku ini? Sudikah Engkau sekadar melirik untuk makhluk nista sepertiku?
Di hadapan-Mu, jiwa ini malu. Raga ini bodoh. Derajat ini rendah. Hati ini pengecut. Aku iri. Sungguh iri pada mereka.

Mereka disana mati, tapi hidup..

Aku disini hidup, tapi mati…

Foto: semangat99.wordpress.com

 
 

Maafkan aku, Palestina

03 Jun

Maaf..

Maafkan aku yang pengecut ini. Yang tak bisa menjagamu dikala syaitan menerjang.
Maafkan aku yang payah ini. Yang tak bisa membelamu saat iblis menyerang.
Maafkan aku yang lemah ini. Yang hanya bisa menangis lirih mendengar deritamu.
Maafkan aku yang bodoh ini. Yang tak akan pernah sanggup ikuti jiwa jihadmu.

Tak ada yang bisa kuberikan.
Tak lebih dari sumbangan yang tak pantas.
Tak cukup sejumput doa tulus dari hati yang nista.

Ampuni hamba-Mu ya Allah. Maafkan aku wahai Palestina..

Foto: forkimultimedia.wordpress.com

 
 

Nasihat sang telinga

02 Jun

Hai sang pendengar,
Akulah penghantar suara indah duniamu
Akulah pemakna bisikan sekitarmu
Akulah sepasang perhiasan wajahmu

..tanpaku..

Betapa sunyi hidupmu
Betapa hampa sekitarmu
Betapa muram irama alammu

..namun..

Kau paksa aku mendengar kebohongan dunia
Kau enyahkan aku dari alunan merdu kalimat-Nya
Kau seakan tak pedulikan seruan-Nya

..sadarkah kau..

Bahwa aku hampa tanpa firman-Nya
Bahwa aku bisa pergi darimu kapan saja
Bahwa aku bukan milikmu…

Foto: jiwasukses.wordpress.com