Senggigi mendesir sore itu. Perahu nan jauh mulai melaju. Di sisi pasir putih, nelayan bercengkerama. Seorang turis asing mendekatiku. “Lombok lebih menarik dari Bali. Bali terlalu ramai”, ujarnya. Aku hanya tersenyum. Saat itu aku belum pernah ke Bali. Tak lama kemudian dia pergi menghampiri kedua anaknya yang sedang riang mengejar ombak. Aku mengamati mereka sebentar dan kembali menerawang jauh. Betapa lautan sangat misterius. Begitu luas, begitu perkasa, namun menyimpan rahasia yang dalam di setiap jengkalnya.
Aku memeluk lututku. Kubenamkan jemari kakiku dalam selimut pasir yang sejuk. Senja kian menguning. Laut mulai menelan matahari. Panorama luar biasa untuk seseorang yang sejak lahir tinggal jauh dari pantai. Entah kenapa tiba-tiba khayalan tsunami muncul di benakku. Aku bergidik sendiri. Betapa kuasa-Nya tidak terkira. Kubayangkan sebuah jari besar tercelup, dan serta merta daratan sekitarnya hilang ditelan ombak. Aku bangkit. Ah, sudahlah. Liburan masih panjang. Buat apa berkhayal macam-macam. Kulirik riak ombak di belakangku sekali lagi. Aku tersenyum sendiri. Bodoh sekali, bahkan Engkau tidak perlu mencelupkan ‘jari’-Mu hanya sekedar membuat tsunami. Karena Engkau Maha Segalanya ya Allah.
(sepenggal kisah Agustus 2008)